Senin, 27 Februari 2023

Iman dan Cinta

Iman adalah kepercayaan (yang berkenaan dengan agama); keyakinan dan kepercayaan kepada Allah, nabi, kitab, dan sebagainya.[1]

              Cinta adalah kasih sayang.[2]

    Para ulama mendefinisikan cinta dengan kecondongan hati terhadap sesuatu yang dirasa atau diyakini itu baik seperti cinta seorang hamba kepada Tuhannya dengan mengagungkan-Nya dan meminta untuk selalu dekat dengannya-Nya; maka cinta kepada Allah SWT diungkapkan dengan mengerjakan perintahnya dan menjauhi larangannya.

Gambaran singkat tentang iman adalah mengerjakan apa yang di perintahkan dan menjauhi apa yang dilarang-Nya.

Sedangkan gambaran cinta adalah mengerjakan tanpa harus di perintah atau menjauhi tanpa harus dilarang Allah SWT.

Maka cinta kepada Allah SWT adalah tujuan yang paling tinggi dari seorang hamba dan derajat paling baik yang didapat; oleh karenanya cinta memiliki kedudukan yang penting ketika beriman kepada-Nya yang karenanya salat yang kita kerjakan, doa yang kita panjatkan itu semata karena rasa iman dan cinta kita kepada-Nya.

Para ulama juga mencontohkan arti cinta itu dengan memeluk erat ketaatan dan menjauhi maksiat yang di mana seorang yang cinta dengan Allah akan ada ketika dalam ketaatan dan akan hilang ketika maksiat.

Iman seorang hamba akan mengalami proses ujian/cobaan yang akan menguji nilai iman kita, apakah iman itu sudah sampai pada tahap cinta yang sehingga apa pun yang di uji akan dihadapi dengan sabar dan tawakal yang nantinya akan menjadikan cinta yang tumbuh dengan baik.

Allah SWT berfirman:

وَلَنَبۡلُوَنَّكُم بِشَيۡءٖ مِّنَ ٱلۡخَوۡفِ وَٱلۡجُوعِ وَنَقۡصٖ مِّنَ ٱلۡأَمۡوَٰلِ وَٱلۡأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَٰبَتۡهُم مُّصِيبَةٞ قَالُوٓاْ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيۡهِ رَٰجِعُونَ أُوْلَٰٓئِكَ عَلَيۡهِمۡ صَلَوَٰتٞ مِّن رَّبِّهِمۡ وَرَحۡمَةٞۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُهۡتَدُونَ .

Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “Inna lillahi wa inna ilaihi raji‘un” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali). Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk”.[3]

Seorang insan yang hidup perlu memiliki iman yang baik pada dirinya karena dalam usahanya tidak bisa menentukan hasil dari usaha, maka dari itu disertai dengan iman yang  baik yang  akan sabar jika diuji dan tawakal setelah sabar dan zuhud ketika mendapatkan rezeki yang baik yang semua ini adalah hasil dari kesatuan iman dan cinta kepada Allah SWT, maka dengan iman tersebut kita tata hidup untuk kebahagian di dunia dan akhirat.

Orang beriman tidak akan pernah putus asa karena percaya ada zat yang mengatur semua ini namun terkadang iman bisa tebal dan tipis, Contoh: percaya secara lisan dengan zat tetapi tindakan tidak, maka keimanan itu sedang tidak baik.

Sampai batas mana iman itu dikatakan baik, sampai kita sampai pada tahapan cinta terhadapnya.

Bagaikan cinta ibu kepada anaknya bukan seperti teman dengan teman yang tujuan saling menguntungkan. Apalagi seperti atasan dan anak buah yang tujuannya adalah takut dan berharap hal lain.

Dalam tasawuf, ada beberapa keadaan seseorang ketika taat kepada Allah Subhanallahu wa ta'ala, diantaranya:

  1. keadaan khauf ( takut)

Ketaatan seorang muslim dengan perasaan takut akan hukuman yang Allah SWT terangkan dalam al quran dan hadis.

 

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ لَن تُغۡنِيَ عَنۡهُمۡ أَمۡوَٰلُهُمۡ وَلَآ أَوۡلَٰدُهُم مِّنَ ٱللَّهِ شَيۡ‍ٔٗاۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمۡ وَقُودُ ٱلنَّارِ

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir, bagi mereka tidak akan berguna sedikit pun harta benda dan anak-anak mereka terhadap (azab) Allah. Dan mereka itu (menjadi) bahan bakar api neraka [4]

 

  Al-baqarah ayat 196:

 وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ 

“Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras hukuman-Nya”.

 2. keadaan raja' (mengharap)

Ketaatan seorang hamba dengan perasaan menginginkan kebaikan yang Allah SWT janjikan dalam al quran dan sunah dengan mengerjakan perintah-Nya.

 

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

قُلۡ إِنَّمَآ أَنَا۠ بَشَرٞ مِّثۡلُكُمۡ يُوحَىٰٓ إِلَيَّ أَنَّمَآ إِلَٰهُكُمۡ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞۖ فَمَن كَانَ يَرۡجُواْ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلۡيَعۡمَلۡ عَمَلٗا صَٰلِحٗا وَلَا يُشۡرِكۡ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدَۢا .

“Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang telah menerima wahyu, bahwa sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa.” Maka barangsiapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya.”

 

  1. keadaan Mahabbah (taat dengan cinta)

ketaatan dengan keadaan mahabbah/cinta adalah sebuah  tujuan yang paling tinggi dari sebelumnya dan proses derajat yang paling baik.

Tidak ada keadaan setelahnya kecuali hanya hasil dari proses cinta tersebut seperti  syauq (rindu), rida dll. dan tidak ada keadaan sebelumnya kecuali sebagai pendahuluan untuk sampai keadaan itu seperti tobat, sabar dan zuhud.

Beriman dengan cinta berarti selalu mengerjakan apa yang diperintah dan menjauhi apa yang dilarangnya.

Allah SWT Berfirman:

قُلۡ إِن كُنتُمۡ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِي يُحۡبِبۡكُمُ ٱللَّهُ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۚ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٞ

“Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” [5]

Rasulullah Shallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

              عن أنس ، عن النبي صلى الله عليه وسلم، قال : " ثلاث من كن فيه وجد حلاوة الإيمان :  أن يكون الله ورسوله أحب إليه مما سواهما، وأن يحب المرء لا يحبه إلا لله، وأن يكره أن يعود في الكفر كما يكره أن يقذف في النار ".

Tiga hal yang apabila dikerjakan akan menemukan manisnya iman:

1.       Menjadikan Allah dan Rasulullah Shallahu 'Alaihi Wasallam adalah yang paling dicintai dari apa pun selainnya.

2.       Mencintai seseorang tidaklah mencintainya kecuali karena Allah SWT.

3.       dan membenci untuk menjadi/kembali kafir sebagai dia tidak ingin dilemparkan ke api/neraka.

Penjelasan yang jelas dari hadis ini adalah Rasulullah Saw menghubungkan di antara manis dan iman dengan cinta kepada Allah SWT dan Rasulullah Shallahu 'Alaihi Wasallam, hal itu sudah menjelaskan kedudukan cinta yang tinggi dalam islam sebagaimana Rasulullah Saw menjadikan cinta Allah Swt dan Rasul-Nya sebagaimana Syarat sempurnanya iman dalam beberapa Hadis -nya.[6]

Rasulullah Shallahu 'Alaihi Wasallam Bersabda:

عن أنس ، عن النبي صلى الله عليه وسلم ح وحدثنا آدم ، قال : حدثنا شعبة ، عن قتادة ، عن أنس قال : قال النبي صلى الله عليه وسلم : " لا يؤمن أحدكم حتى أكون أحب إليه من والده وولده، والناس أجمعين ".

“Tidaklah sempurna iman diantara kalian sampai aku dicintai melebihi cintanya kepada keluarga, anaknya dan manusia sekalian.”[7]

Syekh yusri Hafidzallahu ‘anhu menyampaikan:

“Mengikuti Nabi itu haruslah dengan cinta karena tidak dengan cinta itu disebut nifak sebagaimana orang munafik  yang salat di belakang Nabi Shallahu 'Alaihi Wasallam tetapi lari dari peperangan dengannya maka mengikuti Nabi seperti ini tidak bermanfaat baginya. Sebagian orang yang mengatakan bahwa mencintai Nabi dengan mengikutinya adalah sebuah kesalahan karena  beriman dengan mengikuti itu adalah buah/hasil dari cinta kepadanya dan bukti cinta kepadanya; dengan dalil banyak orang munafik yang mengikuti Nabi  tetapi mati dalam keadaan tidak cinta kepadanya.

Oleh karena itu, haruslah cinta yang menghasilkan/membuahkan kepada mengikuti kepadanya; maka beriman dengan Nabi dengan cara mencintainyalah  yang menjadikan dia pengikut Nabi yang bermanfaat.

 

 

 Oleh: Muhammad Akbar T, Lc



[1] . https://www.kbbi.web.id/iman

[2] . https://www.kbbi.web.id/cinta

[3] . Al-baqarah ayat (155-157)

[4] . Al-imron ayat 10.

[5] . Alimron ayat 31.

[6] .HR. Imam Bukhari dan Muslim

[7] . HR. Bukhari