Selasa, 07 November 2023


Muhammad Akbar, Lc,.dipl

8 November 2023

  Politik dan Dialog

“ Menjaga Persaudaraan di Tengah Perbedaan ”

    Tahun politik adalah tahun puncak partisipasi rakyat dalam memilih pemimpin untuk lima tahun mendatang. Tahun politik saat ini sudah dipenuhi drama politik yang tak terhindarkan. Semua media, termasuk media mainstream, akan menyajikan berita terbaru, bahkan yang terjadi beberapa minggu lalu. Kita akan menyaksikan drama ini secara langsung, bahkan mungkin ikut serta dalam perdebatan dengan keluarga, teman, dan masyarakat melalui obrolan di dunia nyata maupun media sosial.

Setiap calon presiden dan pendukungnya akan saling bersaing dengan gagasan-gagasan mereka, menggunakan berbagai retorika yang didasarkan pada data, fakta, atau bahkan asumsi pribadi. Kontestasi ini akan menjadi lebih bermakna jika apa yang disajikan dalam media adalah gagasan yang dibahas, pengalaman calon pemimpin, dan catatan prestasi yang telah mereka buat.

Hal ini juga dinilai oleh Presiden ke-7 Joko Widodo, yang mengatakan dalam salah satu acara partai bahwa tahun politik saat ini banyak diwarnai dengan drama politik. Beliau memberikan masukan agar kita berjuang dengan gagasan dan ide, bukan dengan perasaan.".

Di periode ini, masyarakat harus bijak dalam mengonsumsi informasi yang disajikan. Kita akan menemui beragam bahasa dan sudut pandang yang berbeda, terkadang karena perbedaan latar belakang pendidikan atau moral. Perbedaan pendapat bukanlah alasan untuk memutuskan silaturahmi di antara masyarakat, melainkan akibat salah pemahaman, pendengaran, dan penyebaran informasi yang tidak akurat atau hoax.

Adu pendapat dalam mendukung kandidat haruslah diwadahi dalam ruang diskusi yang mempromosikan objektivitas dan penguraian pendapat, bukan dalam ruang debat yang hanya mengakibatkan kesombongan dan perpecahan. Allah SWT berfirman:

 "Janganlah engkau patuhi setiap orang yang suka bersumpah dan berperilaku hina. Suka mencela dan menyebarkan fitnah." (QS. Al-Qalam: 10-11)

Saat kita menyampaikan dan mendukung pandangan kita tentang sosok pemimpin, kita harus mengikuti pedoman yang penuh hikmah. Kita dapat menjelaskan argumen kita dengan baik dan berdebat dengan cara yang santun. Rasulullah SAW bersabda:

"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik." (QS. An-Nahl: 125)

 Sejarah Islam menunjukkan bahwa setelah wafatnya Rasulullah SAW, beliau tidak meninggalkan instruksi tertentu mengenai pemimpin berikutnya. Ini menyebabkan perbedaan pendapat di antara sahabat. Terpilihnya Abu Bakar sebagai khalifah melalui proses pemilihan dan debat terbuka. Keterbukaan ini menjadikan musyawarah mufakat sebagai jalan yang dipilih. Abu Bakar pun memberikan pidato yang menyatukan para sahabat, menekankan kebenaran dan kepatuhan kepada Allah SWT.

Perbedaan pendapat adalah fitrah manusia, dan jika didasari oleh dalil-dalil dan etika debat, perbedaantersebut tidak harus mengakibatkan permusuhan. Selama kita menjunjung tinggi penghormatan terhadap perbedaan pendapat dan berkomunikasi dengan baik, kita dapat membangun diskusi yang bermakna.

Namun, jika perbedaan pendapat diwarnai oleh kebencian dan kesombongan, itu dapat memicu perpecahan dan konflik. Oleh karena itu, penting untuk menghindari mengambil jalur tersebut dan menjaga penghormatan terhadap sudut pandang orang lain.

Tahun politik adalah waktu yang tepat untuk berdiskusi, tetapi harus dijaga dengan baik agar tidak menjadi alat untuk memecah belah masyarakat. Kita harus selalu mengingat firman Allah SWT,

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

 

وَٱعۡتَصِمُواْ بِحَبۡلِ ٱللَّهِ جَمِيعٗا وَلَا تَفَرَّقُواْۚ وَٱذۡكُرُواْ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ إِذۡ كُنتُمۡ أَعۡدَآءٗ فَأَلَّفَ بَيۡنَ قُلُوبِكُمۡ فَأَصۡبَحۡتُم بِنِعۡمَتِهِۦٓ إِخۡوَٰنٗا وَكُنتُمۡ عَلَىٰ شَفَا حُفۡرَةٖ مِّنَ ٱلنَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنۡهَاۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمۡ ءَايَٰتِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تَهۡتَدُونَ 

Berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, janganlah bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara. (Ingatlah pula ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk”. Āli Imrān [3]:103

Saat ini, kita juga harus mengikuti prinsip persaudaraan dan penghormatan terhadap perbedaan, seperti yang disampaikan oleh KH. Musthafa Bisri:

 Perbedaan adalah fitrah kita, sedangkan persaudaraan adalah prinsip mulia kita”.

Semoga tahun politik ini menjadi waktu yang membawa perubahan positif bagi negara dan masyarakat kita, di mana kita dapat menjalin diskusi yang produktif dan tetap menghormati perbedaan pendapat dan  mendapatkan pemimpin yang sedikit mudarat bagi bangsa dan negara, Amin.