Muhammad Akbar Lc., Dipl
“Ketika Ibadah dan Akhlak Berjalan Beriringan:
Membangun Peradaban Berbasis Nilai”
Berkaca pada sejarah, banyak peradaban besar yang tumbuh dan berkembang
dengan baik karena didasari oleh akhlak yang luhur dan moralitas yang tinggi.
Sebaliknya, kehancuran suatu bangsa kerap terjadi ketika masyarakatnya mulai
kehilangan pegangan pada nilai-nilai akhlak yang baik. Akhlak yang mulia akan
membentuk individu yang berintegritas, keluarga yang harmonis, dan komunitas
yang solid, yang pada akhirnya akan mengarahkan terciptanya tatanan sosial yang
adil dan sejahtera.
Menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Akhlak memiliki arti budi pekerti;
kelakuan; perilaku. Akhlak merupakan unsur penting dalam membangun peradaban
umat manusia, oleh karena itu seluruh para nabi dan agama samawi mengajarkan
kepada umatnya agar selalu memiliki rasa malu dalam setiap melakukan tindakan supaya tidak melewati batas dan terciptanya hubungan sosial yang lebih baik
nan harmonis.
Nabi
Muhammad SAW bersabda:
“إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ
مِنْ كَلَامِ النُّبُوَّةِ: إِذَا لَمْ تَسْتَحِي فَافْعَلْ مَا شِئْتَ”
"Sesungguhnya di antara ajaran
kenabian yang masih dipahami oleh manusia adalah: ‘Jika engkau tidak memiliki
rasa malu, maka berbuatlah sesukamu."(HR. Bukhari)
Dan
juga Sabdanya:
“إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ
صَالِحَ الْأَخْلَاقِ”
Artinya: "Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia." (HR.
Ahmad)
Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang yang memahami agama sebatas ritual ibadah kepada Tuhan, tanpa memperhatikan esensi dari ibadah tersebut. Manusia diciptakan sebagai makhluk yang memiliki akal dan hati nurani, yang menjadi dasar pembeda dengan makhluk lainnya, serta memungkinkan mengenal nilai-nilai kebaikan dan bertindak sesuai dengan norma yang berlaku. Akhlak yang mulia bukan hanya menjadi hiasan pribadi, tetapi juga fondasi kuat bagi kemajuan suatu bangsa.
Islam sendiri mengajarkan umatnya tentang Akidah, syariat dan akhlak secara bersamaan, karena salah satu fungsi ibadah adalah selain bentuk penghambaan seseorang terhadap Allah SWT, ia juga berfungsi menyucikan hati dan menata kepribadian seseorang.
Allah SWT berfirman:
“ٱتۡلُ مَآ أُوحِيَ إِلَيۡكَ
مِنَ ٱلۡكِتَٰبِ وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَۖ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ
وَٱلۡمُنكَرِۗ وَلَذِكۡرُ ٱللَّهِ أَكۡبَرُۗ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ مَا تَصۡنَعُونَ”
Artinya:
“Bacalah (Nabi Muhammad) Kitab (Al-Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu dan
tegakkanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan
mungkar. Sungguh, mengingat Allah (salat) itu lebih besar (keutamaannya). Allah
mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-‘Ankabūt [29]: 45)
Nabi
Muhammad SAW bersabda:
“مَنْ لَمْ تَنْهَهُ صَلَاتُهُ
عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ، لَمْ يَزْدَدْ مِنَ اللهِ إِلَّا بُعْدًا”
Artinya:
“Barang siapa yang salatnya tidak mencegahnya dari perbuatan keji dan mungkar,
maka ia tidak bertambah dekat kepada Allah, melainkan justru semakin jauh.”
(HR. Baihaqi)
Ibadah
lainnya seperti zakat, puasa, dan haji juga memiliki tujuan untuk memperbaiki
akhlak dan kepribadian.
Allah
SWT berfirman dalam QS. At-Taubah [9]: 103:
“خُذۡ مِنۡ أَمۡوَٰلِهِمۡ
صَدَقَةٗ تُطَهِّرُهُمۡ وَتُزَكِّيهِم بِهَا”
Artinya:
“Ambillah zakat dari harta mereka (guna) menyucikan dan membersihkan mereka.”
Maka,
zakat bukan semata-mata mengambil sebagian harta dari orang kaya yang kemudian
diberikan kepada orang yang membutuhkan. Lebih jauh daripada itu, zakat juga bertujuan
mengajarkan untuk membersihkan hati dan jiwa, serta menanamkan rasa santun dan
pemurah, yang pada akhirnya memperkuat hubungan harmonis antar sesama manusia.
Oleh
sebab itu, Nabi Muhammad SAW tidak membatasi sedekah hanya berupa harta,
melainkan memperluas makna sedekah tersebut dengan perilaku yang baik.
Nabi Muhammad SAW Bersabda:
“تَبَسُّمُكَ
فِي وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ، وَأَمْرُكَ بِالْمَعْرُوفِ، وَنَهْيُكَ عَنِ
الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ، وَإِرْشَادُكَ الرَّجُلَ فِي أَرْضِ الضَّلَالِ لَكَ
صَدَقَةٌ، وَبَصَرُكَ لِلرَّجُلِ الرَّدِيءِ الْبَصَرِ لَكَ صَدَقَةٌ،
وَإِمَاطَتُكَ الْحَجَرَ، وَالشَّوْكَةَ، وَالْعَظْمَ عَنِ الطَّرِيقِ لَكَ
صَدَقَةٌ، وَإِفْرَاغُكَ مِنْ دَلْوِكَ فِي دَلْوِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ.”
Artinya:
“Senyummu di hadapan saudaramu adalah sedekah bagimu. Perintahmu untuk berbuat kebaikan dan laranganmu dari kemungkaran adalah sedekah. Membimbing seseorang yang tersesat adalah sedekah. Menunjukkan jalan bagi orang yang kurang penglihatannya adalah sedekah. Menyingkirkan batu, duri, dan tulang dari jalan adalah sedekah. Menuangkan air dari embermu ke dalam ember saudaramu adalah sedekah.”(HR. al-Tirmidhi)
Allah
SWT berfirman:
“يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا
كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ
تَتَّقُوْنَ”
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana
diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah
[2]: 183)
“رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ
صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ”
Artinya: “Betapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak mendapatkan apa-apa selain rasa lapar dan haus.” (HR. Ahmad)
Ibadah
haji, perjalanan spiritual yang jika dikerjakan dengan kesungguhan dan disertai
perilaku yang baik, akan menghasilkan peningkatan kualitas rohani, ketakwaan
dan kedekatan dengan Allah SWT.
Nabi
Muhammad SAW bersabda:
“مَنْ أَتَى هَذَا الْبَيْتَ فَلَمْ يَرْفُثْ، وَلَمْ يَفْسُقْ ؛ رَجَعَ كَمَا وَلَدَتْهُ أُمُّهُ.”
Artinya:
“Barang
siapa yang datang ke Baitullah (menunaikan haji) dan tidak berkata kotor
serta tidak berbuat fasik, maka ia akan kembali seperti saat ia dilahirkan oleh
ibunya (bersih dari dosa).”
(HR. Muslim)
Maka,
ibadah yang tidak memengaruhi perilaku dan memperbaiki akhlak tidak memiliki
arti yang berarti karena kedua itu haruslah menjadi satu kesatuan agar menjadi
orang yang beruntung didunia dan akhirat. Nabi Muhammad SAW pernah menceritakan
kepada sahabatnya tentang orang yang akan
bangkrut di hari kiamat:
“Sesungguhnya orang yang bangkrut dari
umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan pahala shalat, puasa,
dan zakat, tetapi juga datang dengan catatan mencaci, menuduh, memakan harta,
menumpahkan darah, dan memukul orang lain. Jika pahalanya habis, dosa-dosa
orang yang dizalimi akan ditimpakan kepadanya, lalu ia dilemparkan ke dalam
neraka.”(HR. Muslim)
Kemajuan suatu bangsa bisa dilihat dari seberapa kuat
mereka memegang akhlak dan norma. Islam mengajarkan hal ini agar umatnya
selamat di dunia maupun akhirat. Sebaliknya, peradaban yang meninggalkan akhlak
dan norma akan mengalami kemunduran. seperti kehancuran kaum Nabi Luth, Tsamud,
dan Nabi Syuaib yang disebabkan oleh rusaknya akhlak mereka.