Oleh : Muhammad Akbar Tanjung, lc
Dewasa ini, Islam sedang diuji dengan berbagai
macam problem di seluruh penjuru dunia. Kasus yang paling tampak di Indonesia
adalah munculnya orang-orang baru yang menjadi tokoh Islam. Seseorang yang
awalnya biasa-biasa saja, tiba-tiba menjadi ustadz terkenal hanya bermodalkan
kepandaian beretorika dan bersosial media. Walhasil, pemahaman Islam terbawa pada ranah
yang terkesan radikal atau jumud. Hal
ini disebabkan oleh orang-orang yang menyampaikan Islam namun bukan pakar dalam
ilmu tersebut. Umat muslim yang semakin mudah terbawa emosi, terkhusus
orang-orang awam yang mudah terpengaruh dengan dakwah-dakwah radikal yang banyak
berkeliaran.
Dalam
benak orang-orang barat, Islam dicitrakan sebagai agama barbar. Sehingga ada
sebagian orang yang meluapkan amarahnya dalam bentuk aksi. Seperti kejadian baru-baru
ini yang sangat memukul hati umat muslim pada khususnya dan manusia pada
umumnya. Tragedi pembunuhan yang disiarkan secara langsung layaknya seperti
game PUBG yang dilakukan oleh Brentont Tarent. Peristiwa ini sekaligus menjadi
bukti nyata yang sekian kali, bahwa tuduhan teroris yang disematkan kepada umat
Islam adalah salah. Banyak masyararakat Selandia Baru yang berempati tehadap
umat Islam setelah kejadian itu.[1]
Dalam menyikapi kasus ini, penulis
ingin mengembalikan citra Islam berdasarkan manhaj al-Azhar. Grand
Syeikh Ahmad Tayyib sebagai pimpinan al-Azhar telah lama menyebarkan pemahaman agama Islam yang moderat.
Sebagaimana firman
Allah subhanahu wa ta’ala:
وَكَذَلِكَ
جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطاً لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ
الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيداً
Artinya:
“Dan yang demikian itu Kami telah
menjadikan kalian (umat Islam) sebagai ‘umata wasatha’ (umat pertengahan) agar
kalian menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi
saksi atas perbuatan kalian,…” (QS. Al-Baqarah: 143).
Walaupun dalam penyebaran
pemahaman ini banyak sekali rintangan, seperti halnya tuduhan negatif yang
ditujukan kepada Grand Syeikh al-Azhar secara personal maupun kepada Universitas
al-Azhar. Namun tuduhan ini tidak sedikitpun menggoyahkan sikap al-Azhar untuk
menyebarkan pemahaman yang cinta akan kedamaian dan menjauhi segala macam permusuhan.
Karena al-Azhar sendiri telah lama mengabdi kepada umat Islam dengan
menciptakan cendikiawan-cendikiawan muslim yang sangat berpengaruh di dunia. Al-azhar
sendiri pun sudah tidak diragukan lagi eksistensinya. Al-azhar adalah universitas
islam tertua ke-3 setelah Universitas Al-Qawariyyin di Tunisia dan Universitas
Sankore di Mali, Afrika Barat.[2]
Grand
syeikh al-Azhar yang juga sebagai pemimpin Majlis Hukama al-Muslimin telah
banyak mengadakan ataupun menghadiri pertemuan-pertemuan penting di kesempatan
internasional untuk memperkenalkan Islam sebagai agama yang rahmatal lil ‘alamin
(rahmat bagi semuanya).[3]
Hal
ini sejalan dengan firman Allah SWT:
«وَ ما اَرْسَلْناکَ اِلاَّ رَحْمَهً
لِلْعالَمِینَ»
Artinya:
“Dan tiadalah Kami mengutusmu,
melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (Qs
Al-Anbiya [21]: 107)
Salah
satu contohnya adalah pertemuan yang belum lama ini, yaitu pertemuan Grand
syeikh al-Azhar Ahmad Tayyib dengan pemimpin pemuka agama Kristen Paus
Fransiskus di Uni Emirat Arab. Salah satu hasil pertemuan itu adalah sebuah kesamaan
pemahaman akan pentingnya perdamaian. Dan juga menyangkut pelarangan terhadap
semua pihak untuk tidak melakukan pembunuhan atas nama Tuhan, karena Tuhan menciptakan
manusia tidak untuk saling bunuh membunuh.[4]
Usia al-Azhar yang sudah mencapai seribu empat
puluh tiga tahun dan pengalaman yang sudah banyak dalam menyebarkan pemahaman Islam
rahmatal lil ‘alamin, maka penulis menyakini bahwa al-Azhar sangat layak
menjadi duta Islam di forum internasional pada era modern saat ini. Didukung
dengan kedalaman ilmu dan pemahaman terhadap al-Quran dan Sunnah yang sesuai
dengan kondisi umat manusia, tanpa mengurangi apalagi menciderai al-Quraan atau
Sunnah itu sendiri, menjadikan al-Azhar sebagai duta dalam menyebarkan Islam
yang sesungguhnya.
[1] .CNN, di akses dari https://www.cnnindonesia.com/internasional/20190316122617-113-377825/pelaku-penembakan-selandia-baru-didakwa-pasal-pembunuhan,
pada tanggal 26 maret 2019 pukul 17.01.
[2] . Republika. Com, diakses dari https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-digest/16/12/04/ohnmrj313-3-universitas-islam-tertua-di-dunia
pada tanggal 26 Maret 2019 pukul 17.19.
[3]. Di akses dari https://www.google.com/search?q=pertemuan+penting+grand+syeikh+azhar&rlz=1C1CHFX_idID793ID793&oq=pertemuan+penting+grand+syeikh+azhar&aqs=chrome..69i57.19500j0j4&sourceid=chrome&ie=UTF-8
pada tanggal 26 maret 2019 pukul 17.30.
[4] .NU.com, di akses dari http://www.nu.or.id/post/read/102375/harapan-baru-dari-deklarasi-grand-syekh-azhar-dan-paus-fransiskus,
pada tanggal 26 maret 2019 pukul 17.45.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar