Muhammad Akbar, Lc,.dipl
8 November 2023
Politik dan Dialog
“ Menjaga Persaudaraan di Tengah Perbedaan ”
Tahun politik adalah tahun puncak
partisipasi rakyat dalam memilih pemimpin untuk lima tahun mendatang. Tahun
politik saat ini sudah dipenuhi drama politik yang tak terhindarkan. Semua
media, termasuk media mainstream, akan menyajikan berita terbaru, bahkan yang
terjadi beberapa minggu lalu. Kita akan menyaksikan drama ini secara langsung,
bahkan mungkin ikut serta dalam perdebatan dengan keluarga, teman, dan
masyarakat melalui obrolan di dunia nyata maupun media sosial.
Setiap calon presiden dan
pendukungnya akan saling bersaing dengan gagasan-gagasan mereka, menggunakan
berbagai retorika yang didasarkan pada data, fakta, atau bahkan asumsi pribadi.
Kontestasi ini akan menjadi lebih bermakna jika apa yang disajikan dalam media
adalah gagasan yang dibahas, pengalaman calon pemimpin, dan catatan prestasi
yang telah mereka buat.
Hal ini juga dinilai oleh Presiden
ke-7 Joko Widodo, yang mengatakan dalam salah satu acara partai bahwa tahun
politik saat ini banyak diwarnai dengan drama politik. Beliau memberikan
masukan agar kita berjuang dengan gagasan dan ide, bukan dengan perasaan.".
Di periode ini, masyarakat harus
bijak dalam mengonsumsi informasi yang disajikan. Kita akan menemui beragam
bahasa dan sudut pandang yang berbeda, terkadang karena perbedaan latar
belakang pendidikan atau moral. Perbedaan pendapat bukanlah alasan untuk memutuskan
silaturahmi di antara masyarakat, melainkan akibat salah pemahaman,
pendengaran, dan penyebaran informasi yang tidak akurat atau hoax.
Adu pendapat dalam mendukung kandidat
haruslah diwadahi dalam ruang diskusi yang mempromosikan objektivitas dan
penguraian pendapat, bukan dalam ruang debat yang hanya mengakibatkan
kesombongan dan perpecahan. Allah SWT berfirman:
"Janganlah engkau
patuhi setiap orang yang suka bersumpah dan berperilaku hina. Suka mencela dan
menyebarkan fitnah." (QS. Al-Qalam: 10-11)
Saat kita menyampaikan dan mendukung
pandangan kita tentang sosok pemimpin, kita harus mengikuti pedoman yang penuh
hikmah. Kita dapat menjelaskan argumen kita dengan baik dan berdebat dengan
cara yang santun. Rasulullah SAW bersabda:
"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan
pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik." (QS.
An-Nahl: 125)
Sejarah Islam menunjukkan bahwa setelah wafatnya Rasulullah SAW, beliau tidak meninggalkan instruksi tertentu mengenai pemimpin berikutnya. Ini menyebabkan perbedaan pendapat di antara sahabat. Terpilihnya Abu Bakar sebagai khalifah melalui proses pemilihan dan debat terbuka. Keterbukaan ini menjadikan musyawarah mufakat sebagai jalan yang dipilih. Abu Bakar pun memberikan pidato yang menyatukan para sahabat, menekankan kebenaran dan kepatuhan kepada Allah SWT.
Perbedaan pendapat adalah fitrah manusia, dan jika didasari oleh dalil-dalil dan etika debat, perbedaantersebut tidak harus mengakibatkan permusuhan. Selama kita menjunjung tinggi penghormatan terhadap perbedaan pendapat dan berkomunikasi dengan baik, kita dapat membangun diskusi yang bermakna.
Namun, jika perbedaan pendapat diwarnai oleh kebencian dan kesombongan, itu
dapat memicu perpecahan dan konflik. Oleh karena itu, penting untuk menghindari
mengambil jalur tersebut dan menjaga penghormatan terhadap sudut pandang orang
lain.
Tahun politik adalah waktu yang tepat
untuk berdiskusi, tetapi harus dijaga dengan baik agar tidak menjadi alat untuk
memecah belah masyarakat. Kita harus selalu mengingat firman Allah SWT,
Allah Subhanahu wa
Ta'ala berfirman:
وَٱعۡتَصِمُواْ بِحَبۡلِ ٱللَّهِ جَمِيعٗا وَلَا تَفَرَّقُواْۚ وَٱذۡكُرُواْ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ إِذۡ كُنتُمۡ أَعۡدَآءٗ فَأَلَّفَ بَيۡنَ قُلُوبِكُمۡ فَأَصۡبَحۡتُم بِنِعۡمَتِهِۦٓ إِخۡوَٰنٗا وَكُنتُمۡ عَلَىٰ شَفَا حُفۡرَةٖ مِّنَ ٱلنَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنۡهَاۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمۡ ءَايَٰتِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تَهۡتَدُونَ
“Berpegangteguhlah kamu
semuanya pada tali (agama) Allah, janganlah bercerai berai, dan ingatlah nikmat
Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu
sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara. (Ingatlah pula ketika itu)
kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana.
Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat
petunjuk”. Āli ‘Imrān [3]:103
Saat ini, kita juga harus mengikuti
prinsip persaudaraan dan penghormatan terhadap perbedaan, seperti yang
disampaikan oleh KH. Musthafa Bisri:
“Perbedaan
adalah fitrah kita, sedangkan persaudaraan adalah prinsip mulia kita”.
Semoga tahun politik ini menjadi
waktu yang membawa perubahan positif bagi negara dan masyarakat kita, di mana
kita dapat menjalin diskusi yang produktif dan tetap menghormati perbedaan
pendapat dan mendapatkan pemimpin yang
sedikit mudarat bagi bangsa dan negara, Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar