Minggu, 03 Januari 2021

Guru, Kunci Peradaban yang maju

 

Oleh: Muhammad Akbar T, Lc

Guru, Kunci Peradaban yang maju

            Suatu Negara maju tidak akan lepas dari pendidikan, karena dengan pendidikan negara itu akan mengalami perkembangan yang maju.

sebenarnya tidak ada perbedaan sumber daya menusia di negara maju dan Negara yang lainnya, yang menjadi pembeda adalah pendidikan yang mengajarkan sumber daya manusia tersebut.

Pendidikan tidak membicarakan seberapa banyak madrasah, sekolah atau Universitas yang telah dibangun, tetapi bagaimana cara mendidik murid dengan baik dan benar, sehingga menjadi insan yang bermanfaat.

Untuk mendidik yang baik dan benar tidak mungkin lepas dari jasa guru-guru yang ikhlas mengajarkan muridnya dari mulai sulit untuk mengucapkan satu kata hingga bisa menciptakan peradaban yang lebih maju.

hal ini sejalan dengan apa yang di sampaikan oleh mantan Wakil presiden RI ke-10 dan 12, Bpk. yusuf kalla di acara peringatan Hari Guru dan HUT PGRI ke-75.

            “Kemajuan dan Kesejahteraan suatu bangsa sangat bergantung pada seberapa besar inovasi yang dihasilkan. nah, inovasi yang dihasilkan melalui pencapaian IPTEK, dan semua itu sangat bergantung pada kualitas guru,”.

Maka, semakin baik kualitas gurunya, maka semakin baik pula pencapaian ilmu pengetahuan suatu bangsa yang tentu akan berpengaruh pada inovasi-inovasi, sehingga kemajuan dan kesejahteraan bangsa tercepai.

            Dalam menjalankan proses pendidikan, guru akan memainkan berbagai peranan penting. Namun demikian, keberhasilan melakoni peran tersebut tergantung pada profesionalitas masing-masing guru. Artinya, belum tentu semua guru berhasil memerankan tugasnya dengan baik di ruang kelas.

            Guru merupakan profesi atau pekerjaan yang memerlukan keahlian khusus, mengingat tugas dan tanggung jawabnya yang begitu kompleks. Oleh karena itu, seorang guru perlu memiliki kompetensi dan profesionalisme yang tinggi agar dapat dan mampu mengarahkan siswa pada tujuan akhir pendidikan yakni terbentuknya manusia yang utuh.

Kompetensi guru merupakan tuntutan yang mutlak dan wajib dimiliki oleh setiap guru. Kompetensi yang harus dimiliki tersebut dengan sendirinya yang terkait dengan tugas dan tanggung jawabnya sebagai seorang guru.

Jika guru yang ideal sudah terpenuhi dan menjalankan tugasnya dengan baik maka peradaban manusia akan menjadi maju dan baik.

            Sejarah manusia telah membuktikan dan mencatat hal tersebut. pada Perang Dunia ke-II(PD-II), Kaisar Jepang Hirohito  mengumpulkan semua guru-guru yang masih ada pasca negaranya hancur sebab dijatuhi bom atom oleh amerika serikat dan mengalami kekalahan di PD-II tersebut, karena sangat paham bahwa pembangunan kembali jepang yang efektif setelah diporak-porandakan itu tergantung pada ketersedian guru yang memadai. atas usahanya itulah jepang memulai membaik, hingga ia menjadi simbol kebangkitan jepang pasca PD-II yang tercatat di akhir hayatnya menjadikan jepang sebagai kekuatan ekonomi terbesar ke-2 di dunia.

oleh karenanya, guru berada di garda atau barisan terdepan untuk kemajuan peradaban sebuah Negara, bangsa bahkan dunia.

Sahabat Nabi  [SalalLâhu ‘alaihi wa Sallama]  abu Darda [Radiyallâhu ‘anhu] juga mendukung hal tersebut dengan mengatakan:

 

كُنْ عَالِمًا أَوْ مُتَعَلِّمًا ، أَوْ مُحِبًّا أَوْ مُتَّبِعًا ، وَلَا تَكُنِ الْخَامِسَ فَتَهْلِكَ قَالَ : قيل لِلْحَسَنِ : وَمَا الْخَامِسُ ؟ قَالَ : الْمُبْتَدِعُ.

            “jadilah orang yang berilmu(mengajar) atau belajar atau mencintai atau yang mengikuti orang berilmu dan Jangan menjadi orang yang kelima karena akan memjadikanmu celaka. ditanya kepada hasan apa yang kelima tersebut? ia menjawab: Orang yang mengadakan sesuatu tanpa dasar ilmu”.

             Guru yang punya andil dalam kemajuan peradabaan, haruslah dihormati dan dimuliakan karena ia adalah sosok yang mengajarkan muridnya dengan keikhlasan dan ketekunan yang kelak melahirkan bibit-bibit yang unggul bagi masyarakat dengan menghasilkan inovasi-inovasi yang bermanfaat bagi semuanya.

Nabi [SalalLâhu ‘alaihi wa Sallama]   pernah berkata:

            “sebaik-baik orangtua adalah yang mengajarkanmu”

Iskandar Zulqarnain juga pernah ditanya, kenapa dia lebih memuliakan guru daripada orangtuanya, ia pun menjawab: karena orangtuaku adalah penyebab aku turun dari langit ke dunia(melahirkan), sedangkan guruku adalah orang yang mengangkatku(derajat) dari dunia ke langit.

memuliakan seorang guru juga pernah ditegaskan oleh imam Ali [Radiyallâhu ‘anhu], Ia berkata:

      "Barang siapa yang mengajariku satu huruf maka aku siap menjadi budaknya, terserah jika ia ingin menjual atau memerdekanku”.

sangatlah mulia dan tinggi derajat seorang guru sehingga seorang sahabat dan  yang paling dekat dengan Rasulullah [SalalLâhu ‘alaihi wa Sallama]  mengucapkan hal yang sedemikian, yang berarti ia telah pasrah untuk dijadikan hamba atau tawanan agar bisa berbakti kepada seorang guru.

            dalam proses pendidkan, ikatan seorang guru dan murid haruslah erat dan kuat karena itu adalah salah satu sebab ilmu yang disampaikan oleh guru akan berhasil secara maksimal kepada seorang murid. pendidikan yang berdasarkan ikatan tersebut akan menciptakan inovasi-inovasi yang kelak akan memajukan peradaban manusia.

Imam Syafi’I (Hafidzallahu 'alaihi) pernah berkata:

            "Saudaraku, ilmu tidak akan diperoleh kecuali dengan enam perkara yang akan saya beritahukan perinciannya: kecerdasan, semangat, sungguh-sungguh, berkecukupan, bersahabat dengan guru dan membutuhkan waktu yang lama".

Seorang Penyair Kuwait  juga pernah mengatakan:

لو لا المربي ما عرفت ربي

“ Kalau bukan karena ada guru tidak mungkin aku mengenal Tuhanku”.

Keberhasilan dan  kesuksesan  seorang murid selalu ada peran seorang guru yang mengajarkannya dengan tekun dan profesional.

            dimasa Pandemi virus COVID-19 ini, kita melihat pendidikan di dunia pada umumnya dan di Indonesia pada khususnya mengalami keterbatasan dan cobaan, seorang guru yang menjadi garda terdepan dalam proses pendidikan dituntut untuk berinovasi dan berkreasi dalam mengajar. keterbatasan dan kekurangan yang dialami oleh guru itu harusnya dimanfaatkan sebaik- baiknya untuk menciptakan ide-ide mengajar yang kreatif yang kelak dapat efektif dalam mengajar.

 Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan atau disapa dengan pak Anis juga mengatakan hal tersebut tatkala mengucapkan Hari Guru melalu video dan disebarkan disalah satu media sosial.

            “Hari Guru di masa pandemi ini menjadi refleksi bahwa kita bukan hanya sebagai pengajar, tapi juga pembelajar. apalagi pada masa pandemi seperti ini kita menghadapi tantangan yang tidak kecil, karena kita dituntut untuk melakukan adaptasi dengan cepat, menggunakan metode baru dalam kegiatan belajar mengajar”.

tidak lupa disaat penyampaian tersebut, beliau mempercayai guru-guru di Indonesia pada khususnya mampu melawati kesulitan-kesulitan di masa pandemi ini, mampu menemukan solusi yang kreatif dan mampu berinovasi yang memunculkan cara yang menarik sehingga proses pembelajaran berjalan menyenangkan.

            dengan berbekal guru yang ideal, inovatis dan ikhlas dalam mengajar masa depan peradaban manusia akan lebih baik dan cerah. 

            disebutkan di salah satu artikel, beberapa point penting  Kriteria seorang guru yang ideal, diantaranya:

  1. Planner, artinya guru memiliki program kerja pribadi yang jelas, program kerja tersebut tidak hanya berupa program rutin, misalnya menyiapkan seperangkat dokumen pembelajaran seperti Program Semester, Satuan Pelajaran, LKS, dan sebagainya. Akan tetapi guru harus merencanakan bagaimana setiap pembelajaran yang dilakukan berhasil maksimal, dan tentunya apa dan bagaimana rencana yang dilakukan, dan sudah terprogram secara baik;
  2. Inovator, artinya memiliki kemauan untuk melakukan pembaharuan dan pembaharuan dimaksud berkenaan dengan pola pembelajaran, termasuk di dalamnya metode mengajar, media pembelajaran, system dan alat evaluasi, serta nurturant effect lainnya. Secara individu maupun bersama-sama mampu untuk merubah pola lama, yang selama ini tidak memberikan hasil maksimal, dengan merubah kepada pola baru pembelajaran, maka akan berdampak kepada hasil yang lebih maksimal;
  3. Motivator, artinya guru ideal mampu memiliki motivasi untuk terus belajar dan belajar, dan tentunya juga akan memberikan motivasi kepada anak didik untuk belajar dan terus belajar sebagaimana dicontohkan oleh gurunya;
  4. Capable personal, maksudnya guru diharapkan memiliki pengetahuan, kecakapan dan ketrampilan serta sikap yang lebih mantap dan memadai sehinga mampu mengola proses pembelajaran secara efektif;
  5. Developer, artinya guru mau untuk terus mengembangkan diri, dan tentunya mau pula menularkan kemampuan dan keterampilan kepada anak didiknya dan untuk semua orang. Guru harus menimba ketrampilan, dan bersikap peka terhadap perkembangan IPTEKS, misalnya mampu dan terampil mendayagunakan komputer, internet, dan berbagai model pembelajaran multi media.

jadi, seorang guru ideal seharusnya memiliki kelima kriteria diatas agar kelak pendidikan yang ada; akan melahirkan insan-insan yang berkualitas baik yang berdampak pada kualitas sumber daya manusia yang semakin baik.

            guru ideal adalah guru yang bertindak sebagai fasilitator; pelindung; pembimbing dan punya figur yang baik (disiplin, loyal, bertanggung jawab, kreatif, melayani sesuai dengan visi, misi yang diinginkan sekolah); termotivasi menyediakan pengalaman belajar bermakna untuk mengalami perubahan belajar berdasarkan keterampilan yang dimiliki siswa dengan berfokus menjadikan kelas yang konduktif secara intelektual fisik dan sosial untuk belajar; menguasai materi, kelas, dan teknologi; serta pendekatan humanis terhadap siswa; Guru menguasai komputer, bahasa, dan psikologi mengajar untuk diterapkan di kelas secara proporsional. Diberlakukan skema rewards dan penegakan disiplin yang humanis terhadap guru dan karyawan.

            Guru ideal juga memiliki kemampuan untuk mengembangkan kemampuan para siswanya melalui pemahaman, keaktifan, pembelajaran sesuai kemajuan zaman dengan mengembangkan keterampilan hidup agar siswa memiliki sikap kemandirian, perilaku adaptif, koperatif, kompetitif dalam menghadapi tantangan, tuntutan kehidupan sehari-hari. Secara efektif menunjukkan motivasi, percaya diri serta mampu mandiri dan dapat bekerja sama. Selain itu guru ideal juga dapat menumbuhkembangkan sikap, disiplin, bertanggung jawab, memiliki etika moral, dan memiliki sikap kepedulian yang tinggi, dan memupuk kemampuan otodidak anak didik, memberikan reward ataupun apresiasi terhadap siswa agar mereka bangga akan sekolahnya dan terdidik juga untuk mau menghargai orang lain baik pendapat maupun prestasinya. Kerendahan hati juga perlu dipupuk agar tidak terlalu overmotivated sehingga menjadi congkak. Diberikan pelatihan berpikir kritis dan strategi belajar dengan manajemen waktu yang sesuai serta pelatihan cara mengendalikan emosi agar IQ, EQ dan ke dewasaan sosial siswa ber imbang.

            Selain itu, guru ideal juga harus memiliki keterampilan dasar pembelajaran, kualifikasi keilmuannya juga optimal, performance di dalam kelas maupun luar kelas tidak diragukan. Tentunya sebagai guru ideal akan bangga dengan profesinya, dan akan tetap setia menjunjung tinggi kode etik profesinya.

            Oleh sebab itu, untuk menjadi guru ideal diperlukan kualifikasi khusus, dan barangkali tidak akan terlepas dari relung hati dan sanubarinya, bahwa mereka memilih profesi guru sebagai pilihan utama dan pertama.



Prinsip-Prinsip dasar Ilmu Kalam (Part.I)

 Penulis: muhammad Akbar T, Lc

Prinsip-Prinsip dasar Ilmu Kalam (Part.I)

                Seorang penuntut ilmu seharusnya mengenal lebih dekat prinsip-prinsip dasar sebuah pelajaran agar penuntut ilmu tersebut mendapatkan gambaran yang baik sebelum mempelajarinya. kesalahan terbesar yang terjadi sekarang adalah menghukumi sesuatu sebelum mengenal prinsip-prinsip dasarnya.

ulama islam telah membuat batasan prinsip-prinsip dengan sepuluh bagian yaitu:

  1.  Definisi yang baik[1]

Imam jurjani( menerangkan ilmu kalam adalah ilmu yang memiliki kaidah-kaidah yang Syar’I yang bersifat yakin berasal dari dalil-dalil.[2]

salah satu imam mazhab yang empat Abu nu’man bin Tsabit(Wafat:150) mendifinisikan Ilmu ilmu kalam dengan istilah Fiqh Akbar[3] yaitu Pengetahuan diri dengan sesuatu yang boleh dan wajib dari Aqidah dan keyakinan-keyakinan.[4]

Ilmu Kalam adalah Ilmu yang menjadikan seseorang mampu untuk menguatkan aqidah agamanya dengan menggunakan dalil-dalil yang kuat.[5]

definisi Imam al-Ijii dalam kitab Al-mawaqif juga hampir serupa dengan difenisi diatas dengan mengenalkan bahwa ilmu kalam adalah Ilmu yang dengannya mampu untuk menguatkan Aqidah dan keyakinan-keyakinan agama dari yang lainnya dan menolak Syubhat.[6]

dari pengertian-pengertian diatas dapat kita simpulkan bahwa ilmu kalam adalah ilmu yang mengenalkan kita kepada keyakinan-keyakinan yang benar dan tidak Taqlid[7] dengan dasar dalil yang bersifat kuat yaitu Al-quran dan hadis yang Mutawatir[8] Sehingga kepercayaan –kepercayaan yang ada di agama islam terjaga secara murni dan dapat menolak dan membantah syubhat-syubhatnya.

ilmu kalam juka diartikan dengan disiplin filsafat mencari prinsip-prinsip teologi Islam melalui dialektika.

adapun alas an yang paling kuat ilmu teologi ini disebut dengan ilmu kalam karena kontroversi yang paling besar diawal-awal adanya ilmu ini adalah tentang sifat Kalam Allah [Subhânahu wa Ta’âlâ]; apakah bagian dari esensi tuhan atau termasuk yang dibuat-buat seperti normal berbicara. ilmu ini juga disebut dengan ilmu fiqh akbar, ilmu ushuluddin, ilmu  , ilmu asma wa sifat, ilmu tauhid dan ilmu nazr wa istidhlal.

 

  1. 2.  Pokok pembahasan[9]

pokok pembahasan ilmu kalam tercakup dalam bebepara point:

1)      Zat Allah [Subhânahu wa Ta’âlâ] dari aspek apa saja yang  wajib, mustahil dan kebolehan bagi-Nya.

2)      Jati diri Rasul-Rasul-Nya [SalalLâhu ‘alaihim wa Sallama]  dari aspek apa saja yang  wajib, mustahil dan kebolehan bagi mereka.

3)      Makhluk-makhluk-Nya dari aspek pembenaran adanya pencipta baginya.

4)      dan hal-hal yang gaib(belum terlihat panca indra) sebagai hal yang wajib diyakini.[10]

secara ringkasnya juga bahwa ilmu kalam membahas pokok-pokok yang berkaitan dengan Zat Allah [Subhânahu wa Ta’âlâ], Sifat-sirat-Nya, Hukum-hukum[11] didunia dan akhirat, dan sifat-sifat yang wajib dan tidak layak bagi-Nya: dan begitu juga dengan Nabi-Nabi dan Rasul- Rasul-nya [SalalLâhu ‘alaihim wa Sallama].

 

  1. 3   Faedah ilmu kalam[12]

            Ilmu kalam banyak sekali faedah yang didapati, diantaranya adalah Mengetahui Eksistensi Allah [Subhânahu wa Ta’âlâ] dan Sifat-sifat-Nya dan sifat-sifat rasul-Nya [SalalLâhu ‘alaihim wa Sallama]  dengan dalil-dalil yang kuat dan juga akan bahagia selamanya.

dengan mempelajari ilmu kalam: iman dan keyakinan akan hukum-hukum syar’i tertanam kuat dan kokoh, tidak tergoyahkan dengan syubhat-syubhat yang batil. dan manfaat langsung didapat didunia adalah teraturnya perkara kehidupan yang terjaga derngan rasa keadilan dan bersosial yang harus tetap terjaga agar keberlangsungan umat manusia tetap ada yang  tidak  berakibat kepada kehancuran. adapun manfaat di akhirat adalah keselamatan dari azab yang diakibatkan dari kekufuran dan keyakinan yang yang salah.

  1. 4.       Keutamaan ilmu kalam[13]

                Ilmu kalam adalah ilmu yang sangat mulia kedudukannya karena ilmu tersebut berkaitan dengan pembahasan Dzat Allah [Subhânahu wa Ta’âlâ], dan juga berkaitan dengan Rasul-Rasul-Nya [SalalLâhu ‘alaihim wa Sallama], dan karena keterkaitan ilmu dengan Dzat yang mulia maka ilmu tersebut juga berada dikedudukan yang mulia.

dan juga karena pembahasan ilmu kalam mengenai hal-hal pokok kebenaran Iman seseorang.

dan juga karena ilmu kalam adalah pondasi dasar hokum-hukum Syar’I, dan kepala dari ilmu-ilmu agama.[14]

Bersambung...





[1] . fungsinya agar seorang pelajar bisa mengenal dengan baik dengan yang ingin dia pelajari.

[2] .Atta’rifaat, Aljurjani.

[3] .beliau membedakan fiqh Akbar yang membahas Aqidah dan keyakinan dan Fiqh yang membahas Amaliyah dan Aktifitas yang dilakukan.

[4] .Al-madkhal Ila Dirasati Ilmil Kalam, DR. Hasan Mahmud Syafi’i.

[5] .Syarah Al-kharidatil bahiyyah, Imam Abi Barakat ahmad bin Muhammad,Darul-saleh, Mesir.

[6] . .Al-madkhal Ila Dirasati Ilmil Kalam, DR. Hasan Mahmud Syafi’i.

[7] .Mengikuti pendapat orang lain tanpa mengenal dalilnya terlebih dahulu

[8] .Hadis yang diriwayatkan banyak sahabat.

[9] . agar bisa membaedakan ilmu ini dengan ilmu lainnya maka harus melihat pokok pembahasannya.

[10] lihat: tuhfatul murid ala jauharatut tauhid, imam baijuri, cetakan ke-8, thn.2015, darul salam, halaman  39.

[11] seperti melabelkan seseorang dengan status muslim, kafir Dll.

[12] memperkuat  daya tarik agar  belajar ilmu tersebut.

[13]mengenal keutamaan ilmu tersebut, akan menambah factor pendorong untuk  mendapatkannya.

[14] syarhul kharidhah albahiyyah, abi barakat ahmad bin Muhammad al-maliki, darul salih, hlm.33