Jumat, 15 November 2024

 

 

Muhammad Akbar Lc., Dipl

 

“Ketika Ibadah dan Akhlak Berjalan Beriringan: Membangun Peradaban Berbasis Nilai”

 

Berkaca pada sejarah, banyak peradaban besar yang tumbuh dan berkembang dengan baik karena didasari oleh akhlak yang luhur dan moralitas yang tinggi. Sebaliknya, kehancuran suatu bangsa kerap terjadi ketika masyarakatnya mulai kehilangan pegangan pada nilai-nilai akhlak yang baik. Akhlak yang mulia akan membentuk individu yang berintegritas, keluarga yang harmonis, dan komunitas yang solid, yang pada akhirnya akan mengarahkan terciptanya tatanan sosial yang adil dan sejahtera.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Akhlak memiliki arti budi pekerti; kelakuan; perilaku. Akhlak merupakan unsur penting dalam membangun peradaban umat manusia, oleh karena itu seluruh para nabi dan agama samawi mengajarkan kepada umatnya agar selalu memiliki rasa malu dalam setiap melakukan tindakan supaya tidak melewati batas dan terciptanya hubungan sosial yang lebih baik nan harmonis.

Nabi Muhammad SAW bersabda:

 

“إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلَامِ النُّبُوَّةِ: إِذَا لَمْ تَسْتَحِي فَافْعَلْ مَا شِئْتَ”

 

"Sesungguhnya di antara ajaran kenabian yang masih dipahami oleh manusia adalah: ‘Jika engkau tidak memiliki rasa malu, maka berbuatlah sesukamu."(HR. Bukhari)

 

Dan juga Sabdanya:

 

“إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ”

 

Artinya: "Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia." (HR. Ahmad)

 

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang yang memahami agama sebatas ritual ibadah kepada Tuhan, tanpa memperhatikan esensi dari ibadah tersebut. Manusia diciptakan sebagai makhluk yang memiliki akal dan hati nurani, yang menjadi dasar pembeda dengan makhluk lainnya, serta memungkinkan mengenal nilai-nilai kebaikan dan bertindak sesuai dengan norma yang berlaku. Akhlak yang mulia bukan hanya menjadi hiasan pribadi, tetapi juga fondasi kuat bagi kemajuan suatu bangsa.

Islam sendiri mengajarkan umatnya tentang Akidah, syariat dan akhlak secara bersamaan, karena salah satu fungsi ibadah adalah selain bentuk penghambaan seseorang terhadap Allah SWT, ia juga berfungsi menyucikan hati dan menata kepribadian seseorang.

 Allah SWT berfirman:

“ٱتۡلُ مَآ أُوحِيَ إِلَيۡكَ مِنَ ٱلۡكِتَٰبِ وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَۖ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِۗ وَلَذِكۡرُ ٱللَّهِ أَكۡبَرُۗ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ مَا تَصۡنَعُونَ”

 

Artinya: “Bacalah (Nabi Muhammad) Kitab (Al-Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu dan tegakkanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Sungguh, mengingat Allah (salat) itu lebih besar (keutamaannya). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-‘Ankabūt [29]: 45)

 

Nabi Muhammad SAW bersabda:

 

“مَنْ لَمْ تَنْهَهُ صَلَاتُهُ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ، لَمْ يَزْدَدْ مِنَ اللهِ إِلَّا بُعْدًا”

 

Artinya: “Barang siapa yang salatnya tidak mencegahnya dari perbuatan keji dan mungkar, maka ia tidak bertambah dekat kepada Allah, melainkan justru semakin jauh.” (HR. Baihaqi)

 

Ibadah lainnya seperti zakat, puasa, dan haji juga memiliki tujuan untuk memperbaiki akhlak dan kepribadian.

Allah SWT berfirman dalam QS. At-Taubah [9]: 103:

 

“خُذۡ مِنۡ أَمۡوَٰلِهِمۡ صَدَقَةٗ تُطَهِّرُهُمۡ وَتُزَكِّيهِم بِهَا”

 

Artinya: “Ambillah zakat dari harta mereka (guna) menyucikan dan membersihkan mereka.”

 

Maka, zakat bukan semata-mata mengambil sebagian harta dari orang kaya yang kemudian diberikan kepada orang yang membutuhkan. Lebih jauh daripada itu, zakat juga bertujuan mengajarkan untuk membersihkan hati dan jiwa, serta menanamkan rasa santun dan pemurah, yang pada akhirnya memperkuat hubungan harmonis antar sesama manusia.

 

Oleh sebab itu, Nabi Muhammad SAW tidak membatasi sedekah hanya berupa harta, melainkan memperluas makna sedekah tersebut dengan perilaku yang baik.

 Nabi Muhammad SAW Bersabda:

 

              “تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ، وَأَمْرُكَ بِالْمَعْرُوفِ، وَنَهْيُكَ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ، وَإِرْشَادُكَ الرَّجُلَ فِي أَرْضِ الضَّلَالِ لَكَ صَدَقَةٌ، وَبَصَرُكَ لِلرَّجُلِ الرَّدِيءِ الْبَصَرِ لَكَ صَدَقَةٌ، وَإِمَاطَتُكَ الْحَجَرَ، وَالشَّوْكَةَ، وَالْعَظْمَ عَنِ الطَّرِيقِ لَكَ صَدَقَةٌ، وَإِفْرَاغُكَ مِنْ دَلْوِكَ فِي دَلْوِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ.”

 

Artinya:

 “Senyummu di hadapan saudaramu adalah sedekah bagimu. Perintahmu untuk berbuat kebaikan dan laranganmu dari kemungkaran adalah sedekah. Membimbing seseorang yang tersesat adalah sedekah. Menunjukkan jalan bagi orang yang kurang penglihatannya adalah sedekah. Menyingkirkan batu, duri, dan tulang dari jalan adalah sedekah. Menuangkan air dari embermu ke dalam ember saudaramu adalah sedekah.”(HR. al-Tirmidhi)

 Demikian pula ibadah puasa, bukanlah diwajibkan hanya semata-mata menahan haus dan lapar melainkan juga agar kita mampu mengendalikan hawa nafsu, mengendalikan diri agar mencapai ketakwaan.

Allah SWT berfirman:

 

“يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ”

 

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah [2]: 183)

 Nabi Muhammad SAW bersabda:

 

“رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ”

 

Artinya: “Betapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak mendapatkan apa-apa selain rasa lapar dan haus.” (HR. Ahmad)

Ibadah haji, perjalanan spiritual yang jika dikerjakan dengan kesungguhan dan disertai perilaku yang baik, akan menghasilkan peningkatan kualitas rohani, ketakwaan dan kedekatan dengan Allah SWT.

 

Nabi Muhammad SAW bersabda:

             

“مَنْ أَتَى هَذَا الْبَيْتَ فَلَمْ يَرْفُثْ، وَلَمْ يَفْسُقْ ؛ رَجَعَ كَمَا وَلَدَتْهُ أُمُّهُ.”

Artinya:

“Barang siapa yang datang ke Baitullah (menunaikan haji) dan tidak berkata kotor serta tidak berbuat fasik, maka ia akan kembali seperti saat ia dilahirkan oleh ibunya (bersih dari dosa).” (HR. Muslim)

 

Maka, ibadah yang tidak memengaruhi perilaku dan memperbaiki akhlak tidak memiliki arti yang berarti karena kedua itu haruslah menjadi satu kesatuan agar menjadi orang yang beruntung didunia dan akhirat. Nabi Muhammad SAW pernah menceritakan kepada sahabatnya  tentang orang yang akan bangkrut di hari kiamat:

Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan pahala shalat, puasa, dan zakat, tetapi juga datang dengan catatan mencaci, menuduh, memakan harta, menumpahkan darah, dan memukul orang lain. Jika pahalanya habis, dosa-dosa orang yang dizalimi akan ditimpakan kepadanya, lalu ia dilemparkan ke dalam neraka.”(HR. Muslim)

 

Kemajuan suatu bangsa bisa dilihat dari seberapa kuat mereka memegang akhlak dan norma. Islam mengajarkan hal ini agar umatnya selamat di dunia maupun akhirat. Sebaliknya, peradaban yang meninggalkan akhlak dan norma akan mengalami kemunduran. seperti kehancuran kaum Nabi Luth, Tsamud, dan Nabi Syuaib yang disebabkan oleh rusaknya akhlak mereka.

Selasa, 07 November 2023


Muhammad Akbar, Lc,.dipl

8 November 2023

  Politik dan Dialog

“ Menjaga Persaudaraan di Tengah Perbedaan ”

    Tahun politik adalah tahun puncak partisipasi rakyat dalam memilih pemimpin untuk lima tahun mendatang. Tahun politik saat ini sudah dipenuhi drama politik yang tak terhindarkan. Semua media, termasuk media mainstream, akan menyajikan berita terbaru, bahkan yang terjadi beberapa minggu lalu. Kita akan menyaksikan drama ini secara langsung, bahkan mungkin ikut serta dalam perdebatan dengan keluarga, teman, dan masyarakat melalui obrolan di dunia nyata maupun media sosial.

Setiap calon presiden dan pendukungnya akan saling bersaing dengan gagasan-gagasan mereka, menggunakan berbagai retorika yang didasarkan pada data, fakta, atau bahkan asumsi pribadi. Kontestasi ini akan menjadi lebih bermakna jika apa yang disajikan dalam media adalah gagasan yang dibahas, pengalaman calon pemimpin, dan catatan prestasi yang telah mereka buat.

Hal ini juga dinilai oleh Presiden ke-7 Joko Widodo, yang mengatakan dalam salah satu acara partai bahwa tahun politik saat ini banyak diwarnai dengan drama politik. Beliau memberikan masukan agar kita berjuang dengan gagasan dan ide, bukan dengan perasaan.".

Di periode ini, masyarakat harus bijak dalam mengonsumsi informasi yang disajikan. Kita akan menemui beragam bahasa dan sudut pandang yang berbeda, terkadang karena perbedaan latar belakang pendidikan atau moral. Perbedaan pendapat bukanlah alasan untuk memutuskan silaturahmi di antara masyarakat, melainkan akibat salah pemahaman, pendengaran, dan penyebaran informasi yang tidak akurat atau hoax.

Adu pendapat dalam mendukung kandidat haruslah diwadahi dalam ruang diskusi yang mempromosikan objektivitas dan penguraian pendapat, bukan dalam ruang debat yang hanya mengakibatkan kesombongan dan perpecahan. Allah SWT berfirman:

 "Janganlah engkau patuhi setiap orang yang suka bersumpah dan berperilaku hina. Suka mencela dan menyebarkan fitnah." (QS. Al-Qalam: 10-11)

Saat kita menyampaikan dan mendukung pandangan kita tentang sosok pemimpin, kita harus mengikuti pedoman yang penuh hikmah. Kita dapat menjelaskan argumen kita dengan baik dan berdebat dengan cara yang santun. Rasulullah SAW bersabda:

"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik." (QS. An-Nahl: 125)

 Sejarah Islam menunjukkan bahwa setelah wafatnya Rasulullah SAW, beliau tidak meninggalkan instruksi tertentu mengenai pemimpin berikutnya. Ini menyebabkan perbedaan pendapat di antara sahabat. Terpilihnya Abu Bakar sebagai khalifah melalui proses pemilihan dan debat terbuka. Keterbukaan ini menjadikan musyawarah mufakat sebagai jalan yang dipilih. Abu Bakar pun memberikan pidato yang menyatukan para sahabat, menekankan kebenaran dan kepatuhan kepada Allah SWT.

Perbedaan pendapat adalah fitrah manusia, dan jika didasari oleh dalil-dalil dan etika debat, perbedaantersebut tidak harus mengakibatkan permusuhan. Selama kita menjunjung tinggi penghormatan terhadap perbedaan pendapat dan berkomunikasi dengan baik, kita dapat membangun diskusi yang bermakna.

Namun, jika perbedaan pendapat diwarnai oleh kebencian dan kesombongan, itu dapat memicu perpecahan dan konflik. Oleh karena itu, penting untuk menghindari mengambil jalur tersebut dan menjaga penghormatan terhadap sudut pandang orang lain.

Tahun politik adalah waktu yang tepat untuk berdiskusi, tetapi harus dijaga dengan baik agar tidak menjadi alat untuk memecah belah masyarakat. Kita harus selalu mengingat firman Allah SWT,

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

 

وَٱعۡتَصِمُواْ بِحَبۡلِ ٱللَّهِ جَمِيعٗا وَلَا تَفَرَّقُواْۚ وَٱذۡكُرُواْ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ إِذۡ كُنتُمۡ أَعۡدَآءٗ فَأَلَّفَ بَيۡنَ قُلُوبِكُمۡ فَأَصۡبَحۡتُم بِنِعۡمَتِهِۦٓ إِخۡوَٰنٗا وَكُنتُمۡ عَلَىٰ شَفَا حُفۡرَةٖ مِّنَ ٱلنَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنۡهَاۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمۡ ءَايَٰتِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تَهۡتَدُونَ 

Berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, janganlah bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara. (Ingatlah pula ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk”. Āli Imrān [3]:103

Saat ini, kita juga harus mengikuti prinsip persaudaraan dan penghormatan terhadap perbedaan, seperti yang disampaikan oleh KH. Musthafa Bisri:

 Perbedaan adalah fitrah kita, sedangkan persaudaraan adalah prinsip mulia kita”.

Semoga tahun politik ini menjadi waktu yang membawa perubahan positif bagi negara dan masyarakat kita, di mana kita dapat menjalin diskusi yang produktif dan tetap menghormati perbedaan pendapat dan  mendapatkan pemimpin yang sedikit mudarat bagi bangsa dan negara, Amin.

Senin, 27 Februari 2023

Iman dan Cinta

Iman adalah kepercayaan (yang berkenaan dengan agama); keyakinan dan kepercayaan kepada Allah, nabi, kitab, dan sebagainya.[1]

              Cinta adalah kasih sayang.[2]

    Para ulama mendefinisikan cinta dengan kecondongan hati terhadap sesuatu yang dirasa atau diyakini itu baik seperti cinta seorang hamba kepada Tuhannya dengan mengagungkan-Nya dan meminta untuk selalu dekat dengannya-Nya; maka cinta kepada Allah SWT diungkapkan dengan mengerjakan perintahnya dan menjauhi larangannya.

Gambaran singkat tentang iman adalah mengerjakan apa yang di perintahkan dan menjauhi apa yang dilarang-Nya.

Sedangkan gambaran cinta adalah mengerjakan tanpa harus di perintah atau menjauhi tanpa harus dilarang Allah SWT.

Maka cinta kepada Allah SWT adalah tujuan yang paling tinggi dari seorang hamba dan derajat paling baik yang didapat; oleh karenanya cinta memiliki kedudukan yang penting ketika beriman kepada-Nya yang karenanya salat yang kita kerjakan, doa yang kita panjatkan itu semata karena rasa iman dan cinta kita kepada-Nya.

Para ulama juga mencontohkan arti cinta itu dengan memeluk erat ketaatan dan menjauhi maksiat yang di mana seorang yang cinta dengan Allah akan ada ketika dalam ketaatan dan akan hilang ketika maksiat.

Iman seorang hamba akan mengalami proses ujian/cobaan yang akan menguji nilai iman kita, apakah iman itu sudah sampai pada tahap cinta yang sehingga apa pun yang di uji akan dihadapi dengan sabar dan tawakal yang nantinya akan menjadikan cinta yang tumbuh dengan baik.

Allah SWT berfirman:

وَلَنَبۡلُوَنَّكُم بِشَيۡءٖ مِّنَ ٱلۡخَوۡفِ وَٱلۡجُوعِ وَنَقۡصٖ مِّنَ ٱلۡأَمۡوَٰلِ وَٱلۡأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَٰبَتۡهُم مُّصِيبَةٞ قَالُوٓاْ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيۡهِ رَٰجِعُونَ أُوْلَٰٓئِكَ عَلَيۡهِمۡ صَلَوَٰتٞ مِّن رَّبِّهِمۡ وَرَحۡمَةٞۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُهۡتَدُونَ .

Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “Inna lillahi wa inna ilaihi raji‘un” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali). Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk”.[3]

Seorang insan yang hidup perlu memiliki iman yang baik pada dirinya karena dalam usahanya tidak bisa menentukan hasil dari usaha, maka dari itu disertai dengan iman yang  baik yang  akan sabar jika diuji dan tawakal setelah sabar dan zuhud ketika mendapatkan rezeki yang baik yang semua ini adalah hasil dari kesatuan iman dan cinta kepada Allah SWT, maka dengan iman tersebut kita tata hidup untuk kebahagian di dunia dan akhirat.

Orang beriman tidak akan pernah putus asa karena percaya ada zat yang mengatur semua ini namun terkadang iman bisa tebal dan tipis, Contoh: percaya secara lisan dengan zat tetapi tindakan tidak, maka keimanan itu sedang tidak baik.

Sampai batas mana iman itu dikatakan baik, sampai kita sampai pada tahapan cinta terhadapnya.

Bagaikan cinta ibu kepada anaknya bukan seperti teman dengan teman yang tujuan saling menguntungkan. Apalagi seperti atasan dan anak buah yang tujuannya adalah takut dan berharap hal lain.

Dalam tasawuf, ada beberapa keadaan seseorang ketika taat kepada Allah Subhanallahu wa ta'ala, diantaranya:

  1. keadaan khauf ( takut)

Ketaatan seorang muslim dengan perasaan takut akan hukuman yang Allah SWT terangkan dalam al quran dan hadis.

 

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ لَن تُغۡنِيَ عَنۡهُمۡ أَمۡوَٰلُهُمۡ وَلَآ أَوۡلَٰدُهُم مِّنَ ٱللَّهِ شَيۡ‍ٔٗاۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمۡ وَقُودُ ٱلنَّارِ

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir, bagi mereka tidak akan berguna sedikit pun harta benda dan anak-anak mereka terhadap (azab) Allah. Dan mereka itu (menjadi) bahan bakar api neraka [4]

 

  Al-baqarah ayat 196:

 وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ 

“Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras hukuman-Nya”.

 2. keadaan raja' (mengharap)

Ketaatan seorang hamba dengan perasaan menginginkan kebaikan yang Allah SWT janjikan dalam al quran dan sunah dengan mengerjakan perintah-Nya.

 

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

قُلۡ إِنَّمَآ أَنَا۠ بَشَرٞ مِّثۡلُكُمۡ يُوحَىٰٓ إِلَيَّ أَنَّمَآ إِلَٰهُكُمۡ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞۖ فَمَن كَانَ يَرۡجُواْ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلۡيَعۡمَلۡ عَمَلٗا صَٰلِحٗا وَلَا يُشۡرِكۡ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدَۢا .

“Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang telah menerima wahyu, bahwa sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa.” Maka barangsiapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya.”

 

  1. keadaan Mahabbah (taat dengan cinta)

ketaatan dengan keadaan mahabbah/cinta adalah sebuah  tujuan yang paling tinggi dari sebelumnya dan proses derajat yang paling baik.

Tidak ada keadaan setelahnya kecuali hanya hasil dari proses cinta tersebut seperti  syauq (rindu), rida dll. dan tidak ada keadaan sebelumnya kecuali sebagai pendahuluan untuk sampai keadaan itu seperti tobat, sabar dan zuhud.

Beriman dengan cinta berarti selalu mengerjakan apa yang diperintah dan menjauhi apa yang dilarangnya.

Allah SWT Berfirman:

قُلۡ إِن كُنتُمۡ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِي يُحۡبِبۡكُمُ ٱللَّهُ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۚ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٞ

“Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” [5]

Rasulullah Shallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

              عن أنس ، عن النبي صلى الله عليه وسلم، قال : " ثلاث من كن فيه وجد حلاوة الإيمان :  أن يكون الله ورسوله أحب إليه مما سواهما، وأن يحب المرء لا يحبه إلا لله، وأن يكره أن يعود في الكفر كما يكره أن يقذف في النار ".

Tiga hal yang apabila dikerjakan akan menemukan manisnya iman:

1.       Menjadikan Allah dan Rasulullah Shallahu 'Alaihi Wasallam adalah yang paling dicintai dari apa pun selainnya.

2.       Mencintai seseorang tidaklah mencintainya kecuali karena Allah SWT.

3.       dan membenci untuk menjadi/kembali kafir sebagai dia tidak ingin dilemparkan ke api/neraka.

Penjelasan yang jelas dari hadis ini adalah Rasulullah Saw menghubungkan di antara manis dan iman dengan cinta kepada Allah SWT dan Rasulullah Shallahu 'Alaihi Wasallam, hal itu sudah menjelaskan kedudukan cinta yang tinggi dalam islam sebagaimana Rasulullah Saw menjadikan cinta Allah Swt dan Rasul-Nya sebagaimana Syarat sempurnanya iman dalam beberapa Hadis -nya.[6]

Rasulullah Shallahu 'Alaihi Wasallam Bersabda:

عن أنس ، عن النبي صلى الله عليه وسلم ح وحدثنا آدم ، قال : حدثنا شعبة ، عن قتادة ، عن أنس قال : قال النبي صلى الله عليه وسلم : " لا يؤمن أحدكم حتى أكون أحب إليه من والده وولده، والناس أجمعين ".

“Tidaklah sempurna iman diantara kalian sampai aku dicintai melebihi cintanya kepada keluarga, anaknya dan manusia sekalian.”[7]

Syekh yusri Hafidzallahu ‘anhu menyampaikan:

“Mengikuti Nabi itu haruslah dengan cinta karena tidak dengan cinta itu disebut nifak sebagaimana orang munafik  yang salat di belakang Nabi Shallahu 'Alaihi Wasallam tetapi lari dari peperangan dengannya maka mengikuti Nabi seperti ini tidak bermanfaat baginya. Sebagian orang yang mengatakan bahwa mencintai Nabi dengan mengikutinya adalah sebuah kesalahan karena  beriman dengan mengikuti itu adalah buah/hasil dari cinta kepadanya dan bukti cinta kepadanya; dengan dalil banyak orang munafik yang mengikuti Nabi  tetapi mati dalam keadaan tidak cinta kepadanya.

Oleh karena itu, haruslah cinta yang menghasilkan/membuahkan kepada mengikuti kepadanya; maka beriman dengan Nabi dengan cara mencintainyalah  yang menjadikan dia pengikut Nabi yang bermanfaat.

 

 

 Oleh: Muhammad Akbar T, Lc



[1] . https://www.kbbi.web.id/iman

[2] . https://www.kbbi.web.id/cinta

[3] . Al-baqarah ayat (155-157)

[4] . Al-imron ayat 10.

[5] . Alimron ayat 31.

[6] .HR. Imam Bukhari dan Muslim

[7] . HR. Bukhari

Minggu, 03 Januari 2021

Guru, Kunci Peradaban yang maju

 

Oleh: Muhammad Akbar T, Lc

Guru, Kunci Peradaban yang maju

            Suatu Negara maju tidak akan lepas dari pendidikan, karena dengan pendidikan negara itu akan mengalami perkembangan yang maju.

sebenarnya tidak ada perbedaan sumber daya menusia di negara maju dan Negara yang lainnya, yang menjadi pembeda adalah pendidikan yang mengajarkan sumber daya manusia tersebut.

Pendidikan tidak membicarakan seberapa banyak madrasah, sekolah atau Universitas yang telah dibangun, tetapi bagaimana cara mendidik murid dengan baik dan benar, sehingga menjadi insan yang bermanfaat.

Untuk mendidik yang baik dan benar tidak mungkin lepas dari jasa guru-guru yang ikhlas mengajarkan muridnya dari mulai sulit untuk mengucapkan satu kata hingga bisa menciptakan peradaban yang lebih maju.

hal ini sejalan dengan apa yang di sampaikan oleh mantan Wakil presiden RI ke-10 dan 12, Bpk. yusuf kalla di acara peringatan Hari Guru dan HUT PGRI ke-75.

            “Kemajuan dan Kesejahteraan suatu bangsa sangat bergantung pada seberapa besar inovasi yang dihasilkan. nah, inovasi yang dihasilkan melalui pencapaian IPTEK, dan semua itu sangat bergantung pada kualitas guru,”.

Maka, semakin baik kualitas gurunya, maka semakin baik pula pencapaian ilmu pengetahuan suatu bangsa yang tentu akan berpengaruh pada inovasi-inovasi, sehingga kemajuan dan kesejahteraan bangsa tercepai.

            Dalam menjalankan proses pendidikan, guru akan memainkan berbagai peranan penting. Namun demikian, keberhasilan melakoni peran tersebut tergantung pada profesionalitas masing-masing guru. Artinya, belum tentu semua guru berhasil memerankan tugasnya dengan baik di ruang kelas.

            Guru merupakan profesi atau pekerjaan yang memerlukan keahlian khusus, mengingat tugas dan tanggung jawabnya yang begitu kompleks. Oleh karena itu, seorang guru perlu memiliki kompetensi dan profesionalisme yang tinggi agar dapat dan mampu mengarahkan siswa pada tujuan akhir pendidikan yakni terbentuknya manusia yang utuh.

Kompetensi guru merupakan tuntutan yang mutlak dan wajib dimiliki oleh setiap guru. Kompetensi yang harus dimiliki tersebut dengan sendirinya yang terkait dengan tugas dan tanggung jawabnya sebagai seorang guru.

Jika guru yang ideal sudah terpenuhi dan menjalankan tugasnya dengan baik maka peradaban manusia akan menjadi maju dan baik.

            Sejarah manusia telah membuktikan dan mencatat hal tersebut. pada Perang Dunia ke-II(PD-II), Kaisar Jepang Hirohito  mengumpulkan semua guru-guru yang masih ada pasca negaranya hancur sebab dijatuhi bom atom oleh amerika serikat dan mengalami kekalahan di PD-II tersebut, karena sangat paham bahwa pembangunan kembali jepang yang efektif setelah diporak-porandakan itu tergantung pada ketersedian guru yang memadai. atas usahanya itulah jepang memulai membaik, hingga ia menjadi simbol kebangkitan jepang pasca PD-II yang tercatat di akhir hayatnya menjadikan jepang sebagai kekuatan ekonomi terbesar ke-2 di dunia.

oleh karenanya, guru berada di garda atau barisan terdepan untuk kemajuan peradaban sebuah Negara, bangsa bahkan dunia.

Sahabat Nabi  [SalalLâhu ‘alaihi wa Sallama]  abu Darda [Radiyallâhu ‘anhu] juga mendukung hal tersebut dengan mengatakan:

 

كُنْ عَالِمًا أَوْ مُتَعَلِّمًا ، أَوْ مُحِبًّا أَوْ مُتَّبِعًا ، وَلَا تَكُنِ الْخَامِسَ فَتَهْلِكَ قَالَ : قيل لِلْحَسَنِ : وَمَا الْخَامِسُ ؟ قَالَ : الْمُبْتَدِعُ.

            “jadilah orang yang berilmu(mengajar) atau belajar atau mencintai atau yang mengikuti orang berilmu dan Jangan menjadi orang yang kelima karena akan memjadikanmu celaka. ditanya kepada hasan apa yang kelima tersebut? ia menjawab: Orang yang mengadakan sesuatu tanpa dasar ilmu”.

             Guru yang punya andil dalam kemajuan peradabaan, haruslah dihormati dan dimuliakan karena ia adalah sosok yang mengajarkan muridnya dengan keikhlasan dan ketekunan yang kelak melahirkan bibit-bibit yang unggul bagi masyarakat dengan menghasilkan inovasi-inovasi yang bermanfaat bagi semuanya.

Nabi [SalalLâhu ‘alaihi wa Sallama]   pernah berkata:

            “sebaik-baik orangtua adalah yang mengajarkanmu”

Iskandar Zulqarnain juga pernah ditanya, kenapa dia lebih memuliakan guru daripada orangtuanya, ia pun menjawab: karena orangtuaku adalah penyebab aku turun dari langit ke dunia(melahirkan), sedangkan guruku adalah orang yang mengangkatku(derajat) dari dunia ke langit.

memuliakan seorang guru juga pernah ditegaskan oleh imam Ali [Radiyallâhu ‘anhu], Ia berkata:

      "Barang siapa yang mengajariku satu huruf maka aku siap menjadi budaknya, terserah jika ia ingin menjual atau memerdekanku”.

sangatlah mulia dan tinggi derajat seorang guru sehingga seorang sahabat dan  yang paling dekat dengan Rasulullah [SalalLâhu ‘alaihi wa Sallama]  mengucapkan hal yang sedemikian, yang berarti ia telah pasrah untuk dijadikan hamba atau tawanan agar bisa berbakti kepada seorang guru.

            dalam proses pendidkan, ikatan seorang guru dan murid haruslah erat dan kuat karena itu adalah salah satu sebab ilmu yang disampaikan oleh guru akan berhasil secara maksimal kepada seorang murid. pendidikan yang berdasarkan ikatan tersebut akan menciptakan inovasi-inovasi yang kelak akan memajukan peradaban manusia.

Imam Syafi’I (Hafidzallahu 'alaihi) pernah berkata:

            "Saudaraku, ilmu tidak akan diperoleh kecuali dengan enam perkara yang akan saya beritahukan perinciannya: kecerdasan, semangat, sungguh-sungguh, berkecukupan, bersahabat dengan guru dan membutuhkan waktu yang lama".

Seorang Penyair Kuwait  juga pernah mengatakan:

لو لا المربي ما عرفت ربي

“ Kalau bukan karena ada guru tidak mungkin aku mengenal Tuhanku”.

Keberhasilan dan  kesuksesan  seorang murid selalu ada peran seorang guru yang mengajarkannya dengan tekun dan profesional.

            dimasa Pandemi virus COVID-19 ini, kita melihat pendidikan di dunia pada umumnya dan di Indonesia pada khususnya mengalami keterbatasan dan cobaan, seorang guru yang menjadi garda terdepan dalam proses pendidikan dituntut untuk berinovasi dan berkreasi dalam mengajar. keterbatasan dan kekurangan yang dialami oleh guru itu harusnya dimanfaatkan sebaik- baiknya untuk menciptakan ide-ide mengajar yang kreatif yang kelak dapat efektif dalam mengajar.

 Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan atau disapa dengan pak Anis juga mengatakan hal tersebut tatkala mengucapkan Hari Guru melalu video dan disebarkan disalah satu media sosial.

            “Hari Guru di masa pandemi ini menjadi refleksi bahwa kita bukan hanya sebagai pengajar, tapi juga pembelajar. apalagi pada masa pandemi seperti ini kita menghadapi tantangan yang tidak kecil, karena kita dituntut untuk melakukan adaptasi dengan cepat, menggunakan metode baru dalam kegiatan belajar mengajar”.

tidak lupa disaat penyampaian tersebut, beliau mempercayai guru-guru di Indonesia pada khususnya mampu melawati kesulitan-kesulitan di masa pandemi ini, mampu menemukan solusi yang kreatif dan mampu berinovasi yang memunculkan cara yang menarik sehingga proses pembelajaran berjalan menyenangkan.

            dengan berbekal guru yang ideal, inovatis dan ikhlas dalam mengajar masa depan peradaban manusia akan lebih baik dan cerah. 

            disebutkan di salah satu artikel, beberapa point penting  Kriteria seorang guru yang ideal, diantaranya:

  1. Planner, artinya guru memiliki program kerja pribadi yang jelas, program kerja tersebut tidak hanya berupa program rutin, misalnya menyiapkan seperangkat dokumen pembelajaran seperti Program Semester, Satuan Pelajaran, LKS, dan sebagainya. Akan tetapi guru harus merencanakan bagaimana setiap pembelajaran yang dilakukan berhasil maksimal, dan tentunya apa dan bagaimana rencana yang dilakukan, dan sudah terprogram secara baik;
  2. Inovator, artinya memiliki kemauan untuk melakukan pembaharuan dan pembaharuan dimaksud berkenaan dengan pola pembelajaran, termasuk di dalamnya metode mengajar, media pembelajaran, system dan alat evaluasi, serta nurturant effect lainnya. Secara individu maupun bersama-sama mampu untuk merubah pola lama, yang selama ini tidak memberikan hasil maksimal, dengan merubah kepada pola baru pembelajaran, maka akan berdampak kepada hasil yang lebih maksimal;
  3. Motivator, artinya guru ideal mampu memiliki motivasi untuk terus belajar dan belajar, dan tentunya juga akan memberikan motivasi kepada anak didik untuk belajar dan terus belajar sebagaimana dicontohkan oleh gurunya;
  4. Capable personal, maksudnya guru diharapkan memiliki pengetahuan, kecakapan dan ketrampilan serta sikap yang lebih mantap dan memadai sehinga mampu mengola proses pembelajaran secara efektif;
  5. Developer, artinya guru mau untuk terus mengembangkan diri, dan tentunya mau pula menularkan kemampuan dan keterampilan kepada anak didiknya dan untuk semua orang. Guru harus menimba ketrampilan, dan bersikap peka terhadap perkembangan IPTEKS, misalnya mampu dan terampil mendayagunakan komputer, internet, dan berbagai model pembelajaran multi media.

jadi, seorang guru ideal seharusnya memiliki kelima kriteria diatas agar kelak pendidikan yang ada; akan melahirkan insan-insan yang berkualitas baik yang berdampak pada kualitas sumber daya manusia yang semakin baik.

            guru ideal adalah guru yang bertindak sebagai fasilitator; pelindung; pembimbing dan punya figur yang baik (disiplin, loyal, bertanggung jawab, kreatif, melayani sesuai dengan visi, misi yang diinginkan sekolah); termotivasi menyediakan pengalaman belajar bermakna untuk mengalami perubahan belajar berdasarkan keterampilan yang dimiliki siswa dengan berfokus menjadikan kelas yang konduktif secara intelektual fisik dan sosial untuk belajar; menguasai materi, kelas, dan teknologi; serta pendekatan humanis terhadap siswa; Guru menguasai komputer, bahasa, dan psikologi mengajar untuk diterapkan di kelas secara proporsional. Diberlakukan skema rewards dan penegakan disiplin yang humanis terhadap guru dan karyawan.

            Guru ideal juga memiliki kemampuan untuk mengembangkan kemampuan para siswanya melalui pemahaman, keaktifan, pembelajaran sesuai kemajuan zaman dengan mengembangkan keterampilan hidup agar siswa memiliki sikap kemandirian, perilaku adaptif, koperatif, kompetitif dalam menghadapi tantangan, tuntutan kehidupan sehari-hari. Secara efektif menunjukkan motivasi, percaya diri serta mampu mandiri dan dapat bekerja sama. Selain itu guru ideal juga dapat menumbuhkembangkan sikap, disiplin, bertanggung jawab, memiliki etika moral, dan memiliki sikap kepedulian yang tinggi, dan memupuk kemampuan otodidak anak didik, memberikan reward ataupun apresiasi terhadap siswa agar mereka bangga akan sekolahnya dan terdidik juga untuk mau menghargai orang lain baik pendapat maupun prestasinya. Kerendahan hati juga perlu dipupuk agar tidak terlalu overmotivated sehingga menjadi congkak. Diberikan pelatihan berpikir kritis dan strategi belajar dengan manajemen waktu yang sesuai serta pelatihan cara mengendalikan emosi agar IQ, EQ dan ke dewasaan sosial siswa ber imbang.

            Selain itu, guru ideal juga harus memiliki keterampilan dasar pembelajaran, kualifikasi keilmuannya juga optimal, performance di dalam kelas maupun luar kelas tidak diragukan. Tentunya sebagai guru ideal akan bangga dengan profesinya, dan akan tetap setia menjunjung tinggi kode etik profesinya.

            Oleh sebab itu, untuk menjadi guru ideal diperlukan kualifikasi khusus, dan barangkali tidak akan terlepas dari relung hati dan sanubarinya, bahwa mereka memilih profesi guru sebagai pilihan utama dan pertama.